Pengelolaan Sampah Komplek
"Mumpung libur, beresin kamar aah, terus nanti sampahnya dipilah. Sekalian bikin konten aja deh, itung-itung sedikit mengedukasi."
Itulah yang awalnya ada dipikiran ku ketika pertama kali tiba di kost setelah libur semester yang panjang. Pada saat itu aku sudah mulai tertarik dengan isu lingkungan dan mulai belajar menghargai lingkungan dengan beberapa aksi kecil yang bisa aku lakukan sendiri di rumah. Seperti bawa tumblr, wadah untuk jajan, totebag buat belanja, sampai dititik aku mulai menyadari bahwa, setelah kita sudah berusaha mengurangi konsumsi kita, saatnya kita mengelola sampah konsumsi pribadi kita yang tersisa. Dan disitulah aku mulai mengenal dengan yang namanya teknik biopori dan mulai belajar pemilahan sampah sendiri. Aku tau sebenarnya teori ini sudah didapatkan mungkin hampir seluruh anak ketika belajar disekolah dulu, hanya kita tidak bisa mengimplementasikan hal tersebut kedalam kehidupan kita sehari-hari dengan maksimal. Jangan salahkan kami soal ini, aku yakin banyak orang yang peduli dengan lingkungan diluar sana tapi terhalang sistem yang membuat mereka mengurungkan niat unuk terus bergerak. Salah satunya adalah aku setelah mengetahui betapa buruknya waste management komplek dimana aku tinggal.
Setelah membersihkan kamar, memilah semua sampah, dan memberi nama sesuai jenisnya, aku berharap jerih payah ku dapat mengurangi beban tukang loak sampah dalam memilah dan aku bisa bilang ke diri ini bahwa aku turut andil lagi dalam menjaga lingkungan disekitar.
Tapi semua itu pupus ketika aku melihat bahwa ternyata semua sampah yang ada di bak diangkut begitu saja oleh tukang loak tanpa memperdulikan jenisnya dan membedakannya. Hal itu membuat ku sedih karena perjuangan untuk memilah sampah yang lumayan banyak itu tidak mudah.
Semenjak itu aku tau bahwa pengelolaan sampah di komplek aku tinggal sangat buruk. Memang, jika dilihat sekilas komplek ini bersih dan rapi karena warganya yang rajin membuang sampah pada tempatnya.
Tapi tetap saja, tanpa pengelolaan yang baik, semua sampah yang diangkut akan menimbulkan masalah dimana sampah tersebut terakhir dibuang dan akan merugikan banyak orang. Jikalau begini, kita tidak membuang sampah namanya, tapi hanya memindahkannya ketempat lain saja.
Padahal jika kita lihat, pengelolaan sampah yang buruk disuatu tempat dapat menimbulkan banyak permasalah mulai dari keindahan, potensi bencana seperti banjir, hingga masalah kesehatan dan menurunnya kualitas hidup. Sering kulihat tetanggaku yang membakar sampahnya. Membuat aku harus menutup hidung ketika melewati kebulan asap tersebut. Ternyata budaya mengelola sampah dengan cara dibakar ini memang sudah mengakar dimata masyarakat indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan lingkungan dan empati terhadap dampak yang ditimbulkan akibat pengelolaan sampah rumah tangga di Indonesia masih kurang.
Dari data ini menunjukkan bahwa cara mengelola sampah dengan cara dibakar menempati urutan pertama dan cara-cara yang seharusnya tepat dalam mengelola sampah seperti dibuat kompos dan daur ulang menempati posisi 3 dibawah.
Setelah kejadian itu aku tidak mempunyai semangat lagi dalam mengelola sampah. Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah aku tidak membuang sampah sembarangan dan mengotori lingkungan. Namun hingga saat ini juga kekhawatiranku adalah membuang sampah sisa makanan yang menjadi salah satu masalah serius dalam pengelolaan sampah. Banyak orang menyepelekan hal ini, padahal sampah sisa makanan jika tidak dikelola dengan baik, membusuk dan dicampur dengan sampah lain akan menghasilkan gas metana yang bisa saja terbakar bahkan meledak kapanpun. Sampah ini juga menyumbang emisi gas rumah kaca yang berkontribusi dalam perubahan iklim bahkan hingga 8% dari emisi global menurut World Resources Institute (WRI). Hal yang mengejutkan juga adalah bahwa Banjarmasin, Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi dengan komposisi sampah sisa makanan tertinggi di Indonesia pada 2023 by Databooks. Hal ini akan menimbulkan tetu saja banyak masalah jika pemerintah kita tidak bisa mengelola sampah baik organik maupun non organiknya.